Selasa, 09 Februari 2010
Ujian Saringan Masuk di Jakarta tanggal 14 Maret 2010
   The 50th Anniversary of Tarumanagara Foundation Untar

Warta Untar Online
Tarumanegara atau Tarumanagara ?
Oleh Dali S. Naga

Nama universitas kita adalah Tarumanagara dengan huruf “a” pada kata nagara. Namun orang yang tidak mengetahuinya ada kalanya menuliskan Tarumanegara dengan huruf “e” pada kata negara. Hal ini terjadi karena bahasa Indonesia mengenal kata negara dan tidak mengenal kata nagara. Bersama itu muncul pertanyaan mengapa terjadi perbedaan demikian. Untuk mencari perbedaan diantara a dan e ini, kita perlu melacak sejarah ke zaman silam, ke zaman kerajaan Tarumanagara.Kerajaan Tarumanagara terletak di sekitar daerah Jakarta, Bekasi, dan Bogor.
Menurut para sejarawan, zaman kerajaan Tarumanagara dimulai pada abad ke-4 sekitar 1600-an tahun yang lalu. Tidak  banyak catatan yang dapat kita lacak kecuali sejumlah prasasti yang dibuat pada zaman itu.

Sampai sekarang, para sejarawan telah menemukan sejumlah prasasati dari zaman kerajaan Tarumanagara. Prasasti itu diberi nama sesuai dengan nama tempat mereka ditemukan. Prasasti itu meliputi prasasti Kebon Kopi, prasasti Tugu, prasasti Manjul atau Cidanghiang, prasasti Ciaruteun, prasasti Telapak Gajah, prasasti Pasir Muara Cianten, prasasti Jambu, prasasti Pasir Awi.Prasasti Ciaruteun dikutip oleh Universitas Tarumanagara. Prasasti itu ditulis dalam
bahasa Sansekerta. Pada zaman bersamaan, di pulau Sumatera terdapat kerajaan Malayu.Bahasa mereka menyebar
ke banyak pesisir di kepulauan Nusantara.

Kerajaan Sriwijaya pada zaman yang bersamaan dengan itu juga menggunakan bahasa Malayu. Para sejarawan telah
menemukan sejumlah prasasti berbahasa Malayu. Mereka juga diberi nama sesuai dengan nama tempat mereka ditemukan. Prasasti berbahasa Malayu yang telah ditemukan meliputi prasasti Kedukan Bukit, di Sumatera Selatan (tahun 683); prasasti Talang Tuwo, di Sumatera Selatan (tahun 684); prasasti Batu Kapur, di Bangka (tahun 686); prasasti Karang Brahi, di Jambi (tahun 692); prasasti Telaga Batu;prasasti Gandasuli, di Jawa Tengah (tahun 832); prasasti Laguna, di Manila (tahun 900);prasasti Terengganu, di Terengganu (sekitar tahun 1303); prasasti Minye Tujuh, di Aceh (tahun 1380).

Bahasa Malayu kuno dari zaman Sriwijaya cukup menarik untuk ditelaah. Kita lihat saja prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuwo. Pertama, di situ kita tidak menemukan ucapan e seperti negara, besar, atau terus. Mereka menggunakan ucapan a atau o.Beberapa di antaranya adalah dangan (dengan), sapulu (sepuluh), lapas (lepas), hanau (enau), sariwu (seribu), wanua (benua), tathapi (tetapi), pattung (betung), ko (ke).Dengan demikian awal se menjadi sa-seperti pada sariwu dan awalan me- menjadi ma-seperti pada mamawa(membawa), manghidupi(menghidupi). Besar kemungkinan bahwa kata nagara (negara) berasal dari sini.

Hal kedua adalah bahwa mereka juga menggunakan ucapan w untuk b seperti wuluh (buluh), wuat (buat), wini(bini), wunuh (bunuh), wulan (bulan), wanum (bangun), wanak (banyak), wala (bala),sariwu (seribu), varang(barang).

Ketiga, kalau partikel di tetap diucapkan di, maka awalan di-mereka ucapkan sebagai ni- seperti niwuat (dibuat), niminum (diminum), nimakan (dimakan), nitanam(ditanam), niparwuat (diperbuat), niwunuh (dibunuh).

Keempat, awalan ber-mereka ucapkan sebagai marseperti marwuat (berbuat), marlapas (berlepas), marhulun, marsarak, marwangun.

Kelima, akhiran –nya mereka ucapkan sebagai na seperti wanakna (banyaknya), niminumna (diminumnya), winina (bininya), wuahna (buahnya), sawanakna (sebanyaknya), wuatna (buatnya), tatkalana (tatkalanya), niwunuhna (dibunuhnya). Agaknya na untuk nya ditemukan juga pada kata wanak (banyak).

Ada baiknya juga kita melihat kata-kata itu di dalam prasasti. Dari prasasti Kedukan bukit, tertulis: mamawa yang wala dua laksa ko dua ratus cara di samwau dangan jalan sariwu tlu ratus sapulu dua vanaknya. Dari prasasti Talang Tuwo: niyur pinang hanau rumwiya dangan samicrana yang kayu nimakan wuahna tathapi haur wuluh pattung ityewa-madi. Itulah Malayu kuno tanpa ucapan e sehingga muncul kata nagara. (*)



LINKS

Counter : 4880235